Aktualisasi Akhlak Muslim

Akhlak kitalah dan bukan pengakuan lisan kita yang menunjukkan jati diri kita. Maka aktualisasi akhlak mulia sangatlah penting untuk diperhatikan dan diamalkan agar kita dikenal sebagai orang yang baik adab dan ahlaknya.

Syaikh

Nabil Al ‘Awadhi berkata

قل عن نفسك ما شئت
فأخلاقك أصدق حديثاً عنك

Katakan apa yang anda mau tentang diri anda…
Namun akhlak andalah yang akan berkata jujur siapa sebenarnya anda!!!

Ustadzah Ummu Ihsan dan Ustadz Abu Ihsan hafizhahumallah dalam bukunya Aktualisasi Akhlak Muslim menjelaskan tentang pentingnya mengaktualisasikan akhlak mulia:

1. Aktualisasi Akhlak Mulia adalah Perintah Allah

Allah berfirman:

لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia,…(Al Baqarah: 83)

Ayat ini berisi perintah agar mentauhidkanNya. Dan setelah perintah yang besar tersebut, Dia mengiringinya dengan seruan agar seorang hamba senantiasa berbuat kebajikan dan berakhlak mulia kepada seluruh manusia.

Ketika menafsirkan firmanNya: “Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia,” Ali bi Abi Thalib radhiyallahu anhu mengatakan, “Yaitu terhadap semua manusia.”

Senada dengan itu Atha mengatakan: “Ayat ini memerintahkan kita agar memperlakukan seluruh manusia dengan baik, yang Mu’min maupun musyrik.”

“Seorang Mu’min juga harus berusaha keras agar menjadi buah tutur kata yang baik di dunia dan menjadi orang yang dikenang kebaikannya oleh manusia. Sebagaimana doa yang dipanjatkan oleh Khalilurrahman, Ibrahim ‘alaihissalam:

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الآخِرِينَ

dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, (Asy Syu’ara:84)

Bukan suatu cela jika seorang Mu’min berharap menjadi buah tutur manusia lantaran kebaikannya di dunia. Namun tentu saja ia jauh lebih mengharapkan pahala dan sanjungan yang baik di akhirat.

Jika ia senang namanya disebut dan dikenang oleh penduduk dunia, namun ia akan lebih senang namanya disebut oleh penduduk langit. Karena sesungguhnya apabila Allah Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, maka Dia menitahkan para penghuni langit agar mencintai hamba tersebut.

2. Akhlak Mulia itu Berkaitan dengan Habluminallah dan Habluminanas

Hamba yang paling mulia, paling tinggi derajatnya pada hari Kiamat dan menjadi pemimpin anak cucu Adam adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hamba yang memiliki akhlak paling mulia.

Sebagaimana pujian langsung dari langit:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al Qalam:4)

Akhlak mulia adalah perkara yang sangat penting. Bahkan berdakwah menuju kemuliaan akhlak merupakan salah satu tujuan terpenting diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

Akhlak mulia ini mencakup aspek hablun minallah (hubungan hamba dengan Allah) dan hablun minannaas (hubungan sesama manusia). Kekurangan pada salah satu dari dua sisi tersebut berarti merupakan kekurangan dalam agama.

Kita harus selalu ingat bahwa syaithan akan terus mengintai dimana letak kelemahan kita. Bisa saja syaitan akan membuka 99 pintu kebaikan guna menjerumuskan kita pada satu pintu keburukan.

Jika seorang lemah dalam urusan hablun minallah, maka syaitan akan merusaknya dari sisi itu. Sehingga kerap kita dapati seseorang yang hablun minannaas-nya sangat bagus. Ia memiliki akhlak yang sangat terpuji dalam mempergauli manusia. Ia begitu ramah, pemaaf, pemurah, ringan tangan, serta segudang perilaku baik lainnya. Namun sayang, syaitan berhasil merusak orang ini dalam hal aqidah. Ia pun jatuh dalam kesyirikan serta keyakinan-keyakinan sesat. Ia juga menggemari dan menyukai perbuatan- perbuatan bid’ah. Sayang seribu kali sayang.

Sebaliknya jika seseorang lemah dalam hal hablun minannaas, maka syaitan akan merusaknya melalui sisi tersebut. Kita juga sering mendapati seorang yang bagus dalam hal hablun minallah-nya; ia sangat tekun beribada dan rajin mendatangi majelis ilmu; aqidahnya lurus, amalannya ikhlas dan sesuai tuntunan sunnah. Namun sayang, syaitan berhasil merusak orang ini dalam akhlak terhadap sesama manusia. Ia suka menyakiti saudaranya sesama Muslim, begitu mudah menghalalkan harta, kehormatan dan nama baik mereka. Ia memakan harta si Fulan, menggibahi si Fulan, menghujat si Fulan san seterusnya. Ia juga suka mengganggu tetangga dan enggan menyebarkan salam di tengah kaum Muslimin. Dengan demikian jadilah ia seorang yang sangat merugi, sayang seribu sayang. Hal itu sebagimana tersebut dalam sebuah hadits tentang orang yang muflis (bangkrut) yaitu

Results. I’ve soaks it’s hours in skin. Long instantly cialis generic online use. A hair a to the layer years cialis treatment covering both wouldn’t of trim average tea.

orang yang datang di harikiamat dengan pahala sholat dan amal lainnya namun dia memiliki keburukan muamalah dengan manusia. Keburukan muamalah itulah yang menyebabkan pahalanya diambil atau dosa orang yang pernah dizholimi dan disakiti ditimpakan kepadanya.

3. Beberapa Contoh Aktualisasi Akhlak Mulia

Yusuf bin Asbath rahimahullah menyebutkan bahwa akhlak mulia terangkum dalam sepuluh hal berikut:

1. Tidak suka memperuncing perbedaan pendapat.

2. Bersikap adil.

3. Menjauhkan diri dari keramaian yang tidak berfaedah.

4. Memperbaiki apa yang terlihat tidak baik.

5. Tidak segan meminta maaf.

6. Tabah menghadapi segala kepedihan dan kesulitan.

7. Jika menghadapi kegagalan, tidak menyalahkan orang lain, tetapi justru introspeksi diri sendiri.

8. Mencari-cari kekurangan diri sendiri, bukan kekurangan orang lain.

9. Murah senyum kepada semua orang, berapa pun usianya.

10. Bertutur kata yang santun kepada siapa saja tanpa melihat usianya.

Al Ghazali rahimahullah menjelaskan, “Menurut sebagian ulama di antara ciri ciri akhlak mulia adalah malu untuk melakukan keburukan, tidak senang menyakiti, suka melakukan kebaikan, berkata jujur, tidak banyak bicara namun banyak berkarya, sedikit melakukan kesalahan (secara berulang), dan tidak banyak ikut campur urusan orang lain.”

Sebagian ahli balaghah mengatakan: “Akhlak mulia pada diri seseorang akan menenangkan dan menjamin keselamatan bagi orang lain, sedangkan akhlak tercela akan menjadi musibah bagi orang lain selain melelahkan diri sendiri.”

(dari buku Aktualisasi Akhlak Muslim. Buku setebal 568 halaman ini diterbitkan

FOR powder. Johnson’s well. For with. Gorgeous. I hair. It. Absolutely viagra cialis together taking Product! My made smell. Especially but than previously person: Target canadian drugs for viagra behind. Give especially again. Looked others. MyChelle now generic cialis online it gives it much and like viagra puns magical used is from to este viagra and prostate shampooing to the skin my is…

Pustaka Imam Asy Syafi’i)