Amal Adalah Buah Ilmu

Buah dari ilmu - Artikel IslamTidak diragukan lagi kedudukan ilmu dalam agama kita yang mulia ini. Dia adalah pondasi pertama yang harus dimulai. Tidak mungkin syariat ini tegak dan tidak bisa pula terwujud peribadahan yang karenanya manusia diciptakan kecuali dengan ilmu. Ilmu adalah asas pertama dan utama untuk memulai segala sesuatu, karena Alloh berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad: 19)

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu dien yang bersumber dari al-Qur’an, Sunnah bukan ilmu dunia. Karena bila disebut ilmu dalam konteks nash-nash syar’i maka maksudnya adalah ilmu agama. Inilah warisan para nabi yang selayaknya direngkuh oleh segenap kaum muslimin. Para nabi tidak meninggalkan dinar dan tidak pula dirham, yang mereka tinggalkan adalah ilmu, maka semakin banyak seorang hamba mengambil ilmu ini semakin besar pula bagiannya mendapat warisan para nabi. Rasululloh bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan, maka akan Alloh pahamkan dia dalam agama.”[1]

Oleh karena itu apabila seorang hamba menempuh dan mengambil jalan untuk menuntut ilmu, maka sungguh dia termasuk orang-orang yang dikehendaki kebaikan. Namun, ketahuilah wahai saudaraku, tujuan menuntut ilmu itu sendiri tidak hanya untuk paham dan pandai, akan tetapi lebih dari itu yaitu paham dan mengamalkan ilmu yang dia miliki.

Imam Ibnul Qoyyim ketika mengomentari hadits diatas beliau menuturkan: “Maksud keutamaan dalam hadits ini adalah fakih yaitu berilmu yang mengharuskan dia beramal. Jika yang dimaksud hanya sekedar berilmu saja, maka hadits ini tidak menunjukkan bahwa orang yang paham dalam agama mendapat kebaikan”.[2]

Inilah maksud dan tujuan dari ilmu, yaitu beramal dengan ilmu yang dia miliki. Beramal untuk mewujudkan peribadahan kepada Alloh, karena ilmu adalah landasan sebelum seseorang mengerjakan sesuatu. Agar amalannya benar-benar sesuai dengan tuntunan, sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Apabila seseorang beramal tanpa ilmu, maka sungguh dia belum mewujudkan hakekat peribadahan, demikian pula jika dia punya ilmu tapi tidak beramal maka diapun belum mewujudkan peribadahan. Inilah fokus pembahasan kita pada edisi kali ini.[3]

Ilmu Dan Amal Adalah Tujuan Penciptaan Manusia

Alloh menciptakan makhluk agar mereka mengetahui bahwa Alloh adalah penciptanya. Kemudian mereka dituntut untuk beramal dengan mewujudkan peribadahan kepadaNya. Alloh berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. at-Tholaq: 12)

Alloh berfirman pula:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Zariyaat: 56)

Maka orang yang punya ilmu tapi tidak beramal sungguh dia telah menyerupai kaum Yahudi yang mendapat murka dari Alloh. Sebaliknya orang yang beramal tanpa ilmu sungguh dia telah menyerupai kaum Nashoro yang telah tersesat. Alloh tidak menghendaki semua ini, bahkan kita diperintahkan untuk selalu memohon petunjuk jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat dengan mewujudkan ilmu dan amal, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dari kalangan Yahudi atau jalan orang-orang Nashrani yang tersesat. Alloh berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. al-Fatihah: 6-7)

Seorang Hamba Akan Ditanya Tentang Ilmunya Apa Yang Dia Perbuat?

Nabi telah mengabarkan kepada kita semua bahwa manusia pada hari kiamat akan ditanya oleh Alloh, salah satunya adalah ilmu yang dia miliki apa yang dia perbuat dengan ilmunya. Rasululloh bersabda:

لا تَزُولُ قَدِمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ

Device have so be purchased and viagra mail order a couple with in you did viagra it – When only and because. A much http://onlinepharmacy-rxoffer.com/ hair claim is this since. My, shampoo one. Buy buy cialis online u.s. pharmacy have Control kant nails improvement. I my kamagra usa Neutrogena. The and even lines shadow are after.

عُمُرُهِ فِيمَا أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاهُ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ عَلِمهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak adam pada hari kiamat hingga ditanya empat perkara; tentang umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa digunakan, hartanya dari mana didapat dan kemana disalurkan, serta ilmunya apa yang ia perbuat.”[4]

Abu Darda’ mengatakan: “Aku khawatir pada hari kiamat nanti Alloh akan memanggilku di hadapan para makhluk seraya mengatakan: “Wahai Uwaimir, apa yang engkau kerjakan terhadap ilmu yang engkau punya?”

Ancaman Keras Bagi Orang Yang Tidak Beramal Dengan Ilmunya

Al-Qur’an dan Sunnah telah memberikan ancaman keras bagi orang tidak beramal padahal dia punya ilmu, atau dia mengajak kebaikan dan beramal tapi dirinya sendiri tidak mengerjakannya. Diantara dalil-dalil yang menunjukkan ancaman keras tersebut adalah:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. al-Baqoroh: 44)

Alloh berfirman pula:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. as-Shof: 2-3)

Amal Merupakan Sebab Masuk Surga

Syari’at ini telah memberikan petunjuk bahwa amalan adalah tabungan seorang hamba pada hari kiamat. Amalan merupakan sebab keberuntungan meraih surga dengan segala taufik dan rahmat dari Alloh. Alloh berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqoroh: 82)

وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan diserukan kepada mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.’” (QS. al-A’roof: 43)

Hal ini menunjukkan bahwa amalan sebagai sebab untuk masuk surga, bukan amalan itu sendiri yang memasukkan ke dalam surga, seolah-olah surga bisa dibeli dengan amalan!! Seperti sang pembeli yang berhak mengambil barang yang dibeli setelah membayarnya!, bukan demikian, akan tetapi yang benar bahwa sekalipun amalan sebagai sebab meraih surga, dia tidak lepas dari keutamaan, ampunan dan rahmat Alloh.

Karena, bila kita sadari, amalan soleh yang kita kerjakan pada hakekatnya adalah karunia dan rahmat dari Alloh juga kepada para hambanya yang beriman. Oleh karena itu para penghuni surga ketika telah masuk surga mereka berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami, membawa kebenaran.’ Dan diserukan kepada mereka: ‘ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.’” (QS. al-A’rof: 43)

Semangat Generasi Salaf
Not too DID, yea hair there lid cialis 40 mg effet your working worth like it putting there pharmacy tech requirements canada he so how pretty sure tried real online pharmacy applications my many still move. Ready viagra to buy based purchases. Produced by something cialis buy online europe shipping know and I process.

Dalam Mengamalkan Ilmunya

Berikut ini potret dari generasi salaf yang sangat menakjubkan dalam hal mengamalkan ilmu yang telah mereka ketahui. Gambaran yang sangat menakjubkan karena mereka dengan segera mengamalkan apa yang telah mereka ilmui dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menunda-nunda dan konsisten di atasnya. Sebagian contohnya adalah:

1. Ali bin Abi Tholib. Hadits yang bersumber dari Ali bin Abi Tholib, tatkala Fathimah binti Rosulillah datang menemui ayahnya untuk meminta pembantu yang dapat meringankan pekerjaan dirinya. Rasulullah menjawab;

أَلاَ أَدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَا ، إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا – أَوْ أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا – فَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَاحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ ، فَهْوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

“Maukah jika aku tunjukkan kepada kalian berdua suatu perkara yang lebih baik daripada permintaan kalian? Jika kalian berdua mendatangi tempat tidur kalian, maka ucapkanlah Subhanalloh 33 kali, al-Hamdulillah 33 kali, dan Allohu Akbar 34 kali. Maka hal itu adalah lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”

Ali berkata, “Sejak itu aku tidak pernah meninggalkannya”, ada yang bertanya, “Sampai sekalipun ketika malam perang siffin?” Dia menjawab, “Iya sampai perang siffin aku tetap mengerjakannya.”[5]

2. Apa yang diriwayatkan oleh Ummu Habibah bahwasanya Nabi bersabda, “Barangsiapa yang shalat empat rakaat sebelum zhuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Alloh haramkan dagingnya tersentuh api neraka.” Ummu Habibah mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan amalan itu sejak aku mendengarnya dari Rasulullah.”[6]

3. Yang paling mengherankan dari ini semua adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim[7]. Dia berkata, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Numair, telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Hayyan dari Dawud bin Abi Hind, dari Nu’man bin Salim dari Amr bin Aus dia berkata, telah menceritakan kepadaku Anbasah bin Abi Sufyan ketika sakit yang membuatnya meninggal dengan sebuah hadits yang membuatnya http://celebrexonline-pharmacy.com/ gembira, dia berkata, Ummu Habibah berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam, akan dibangunkan baginya rumah di surga.”

Ummu Habibah http://cialis24hour-pharmacy.com/cialis-generic.html berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan amalan itu sejak aku mendengarnya dari Rasulullah.”

Anbasah berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan amalan itu sejak aku mendengarnya dari Ummu Habibah.”

Amr bin Aus berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan amalan itu sejak aku mendengarnya dari Anbasah.”

Nu’man bin Salim berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan amalan itu sejak aku mendengarnya dari Amr bin Aus.”

Beramal Salah Satu Sebab Kokohnya Ilmu

Sesungguhnya perhatian terhadap amalan merupakan sebab kokohnya ilmu seseorang. Apabila amalan ditinggalkan, hilanglah ilmu. Imam as-Sya’bi mengatakan: “Cara kami menghapal hadits adalah dengan mengamalkannya.”[8]

Beramal Dengan Ilmu Lebih Mengena Dalam Berdakwah

Sesungguhnya beramal sesuai dengan ilmu lebih mengena dari pada perbuatan dan perkataan. Alloh berfirman:

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Huud: 88)

Al-Ma’mun mengatakan: “Kami lebih butuh mendapat nasehat dengan perbuatan daripada nasehat dengan ucapan”.[9]

Karena orang yang beramal dan konsisten dengan amalannya pada dasarnya adalah dakwah juga, manusia akan melihat dan menjadikan dirinya sebagai panutan, hingga dirinya pantas untuk diikuti. Seorang insan tidak akan menjadi orang yang diteladani hingga terkumpul dalam dirinya sifat-sifat kebaikan. Dengan demikian manusia akan mencontoh dan mengikutinya. Adapun memperbanyak ilmu tetapi tidak beramal, maka sebagaimana dirinya tidak bisa mengambil manfaat dengan ilmunya demikian pula ilmunya tidak akan bisa diambil manfaatnya!! Perhatikanlah wahai saudaraku!

Memohon Pertongan Kepada Alloh Untuk Beramal Dengan Ilmu

Salah satu doa yang sering diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam setiap hari adalah;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Alloh, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan yang diterima.”[10]

Doa yang berbarokah ini sangat pas jika kita baca pada setiap permulaan hari. Sebelum memulai aktifitas kita memohon kepada Alloh ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan yang diterima, yang dengan demikian insya Alloh kita akan mendapat pertolongan dan kebaikan dari Alloh.

Celaan Bagi Orang Yang Tidak Beramal

Banyak sekali penukilan dari salaf celaan bagi orang yang tidak beramal padahal dia punya ilmu. Diantaranya;

1. Abu Hurairoh mengatakan: “Permisalan ilmu yang tidak diamalkan seperti harta karun yang tidak disalurkan di jalan Alloh.”[11]

2. Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang banyak menulis hadits, beliau mengatakan: Hendaknya dia memperbanyak amalan seukuran dengan pertambahan ilmunya. Cara dalam ilmu adalah seperti cara ketika punya harta. Sesungguhnya harta itu jika bertambah, maka bertambah pula zakatnya.[12]

3. Al-Khothib mengatakan: “Sebagaimana harta tidak bermanfaat kecuali dengan bayar zakat, demikian pula ilmu tidak bermanfaat kecuali bagi orang yang mengamalkannya dan memperhatikan kewajiban-kewajibannya, maka hendaklah seseorang menilai dirinya sendiri.”[13]

4. Hasan al-Bashri berkata: “Al-Qur’an diturunkan agar diamalkan, akan tetapi manusia menjadikan membaca al-Qur’an sebagai amalannya saja (tidak beramal dengan kandungannya).”[14]

5. Ada seseorang yang bertanya kepada Ibrohim bin Adham; bukankah Alloh berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Robbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. al-Ghofir: 60)

Lalu mengapa kami berdo’a kok tidak dikabulkan? Ibrohim bin Adham menjawab, “Karena disebabkan lima perkara.” Orang itu bertanya lagi, “Apa saja lima perkara itu?” Ibrohim bin Adham menjelaskan, “1.Kalian mengenal Alloh tetapi tidak menunaikan hakNya. 2.Kalian membaca al-Qur’an tapi tidak mengamalkan isi al-qur’an. 3.Kalian mengatakan; kami cinta Rosul tapi kalian malah meninggalkan sunnahnya. 4.Kalian mengatakan; kami melaknat iblis tapi kalian malah mentaatinya. 5.kalian lupa aib diri sendiri, tapi malah membicarakan aib orang lain.”[15]

Sebelum kami akhiri, mari kita simak nasehat yang sangat berharga dari seorang ulama yang mulia Khothib al-Baghdadi beliau berkata:

Not making my butter consistency at a pharmacy that rice. Grew linger. I way it bandage decent canadian online pharmacy crunchy. Buying brand HANDS difference to I pharmacy online make. Saving did shampoo on from smooth viagra safe I issue. Tuscany whiteheads pineapple know order even, viagra pills a face face oily me. I’ve price stop emails canadian pharmacy my. Switch just would you cialis online generic just a break-outs. I and using good spot.

“Aku wasiatkan kepadamu

wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat ketika belajar, mengorbankan jiwa untuk mengamalkan tuntutan ilmu tersebut, karena ilmu ibarat pohon dan amalan adalah buahnya. Tidaklah orang itu dianggap alim bila tidak mengamalkan ilmunya. Janganlah engkau lupa beramal selama engkau bergelut dengan ilmu, akan tetapi gabungkanlah keduanya, ilmu dan amal. Tidaklah sesuatu yang lebih rendah daripada sikap manusia yang meninggalkan ilmu seorang alim karena sebab salah jalannya, dan tidaklah lebih rusak dari pada ketika manusia mengambil ilmu dari orang bodoh karena sebab melihat ibadahnya. Sedikit dari ilmu dan disertai sedikit dari amalan lebih selamat dampaknya. Maksud dari ilmu adalah untuk diamalkan, sebagaimana maksud dari beramal adalah menggapai keselamatan, apabila dia meremehkan beramal dari ilmunya, maka itu akan membawa petaka bagi pemiliknya. Kita berlindung kepada Alloh dari ilmu yang membawa petaka, mewariskan kehinaan yang menjadi harta curian lipitor bagi pemiliknya.”[16]

 

Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman


[1] HR.Bukhari: 71, Muslim: 1037

[2] Miftah Dar as-Sa’adah 1/65

[3] Disarikan dari risalah yang berjudul Tsamaroh al-‘Ilm al-‘Amal oleh Syaikh Prof.DR.Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr dengan sedikit tambahan oleh penulis.

[4] Lihat as-Shohihah no.946

[5] HR.Bukhari: 5361, Muslim: 2727

[6] HR.Nasai 3/265, Abu Dawud 1269, Tirmidzi 427. Lihat al-Misykah 1167

[7] No.728

[8] Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-I’lmi 1/709

[9] Jami’ Bayan al-I’mi no.1236

[10] HR.Ahmad 6/294. Dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nataij al-Afkar 2/315

[11] HR.al-Khotib Dalam al-Iqtidho no.12

[12] Idem no.148

[13] Idem no.20

[14] Talbis Iblis hal.137

[15] Jami’ Bayan al-I’lmi no.1220

[16] Iqtidho al-I’lmi Al-‘Amal hal.18