Bergaul: Antara Manfaat dan Madharat

Bergaul

Mukadimah

          Manusia adalah makhluk sosial. Manusia sangat sulit untuk dapat hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui manfaat dan kerugian bergaul. Kapan dibenarkan untuk mengisolir diri dari manusia lainnya secara total? Dengan siapa kita harus bergaul? Pergaulan dalam hal apa yang dituntut oleh syariat  Islam? Mana yang lebih utama bergaul atau uzlah ‘mengisolir diri dari manusia’?

          Dalam bab pertama ini penyusun akan meringkaskan penjelasan dari Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Abdur-rahman Ibnu Qudamah Rahimahullah ( wafat tahun 742 H ) dalam bukunya Mukhtashar Minhajil Qashidin, dalam pembahasan mengenai uzlah, pembahasan tentang manfaat dan kerugiannya. Setelah itu dilanjutkan dengan ucapan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahulloh dari kitab beliau Madarijus Salikin, ketika beliau menyebutkan lima perkara yang dapat merusak hati manusia. Bab ini ditutup dengan kesimpulan yang kami ambil dari penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qudamah, dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahumullah, tentang mana yang lebih utama bergaul atau uzlah?

Ucapan Al-Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah tentang Bergaul, Manfaat dan kerugiannya

          Ulama berbeda pendapat tentang uzlah ‘mengasingkan diri dari manusia’ dan bergaul dengan manusia. Manakah yang lebih utama diantara keduanya?

          Mereka yang menganggap uzlah itu lebih utama berhujjah dengan hadits Abi Sa’id Radhiyallahu Anhu. Ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling utama? Beliau menjawab,

رَجُلٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِاللهِ بِمَالِهِ وَنَفْسِهِ ٌقَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَعْبُدُ اللهَ رَبَهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

Seorang yang berjihad dengan harta dan jiwanya’. Orang itu bertanya lagi, ‘siapa lagi’. Beliau menjawab,’Orang Mukmin yang tinggal di bukit terpencil untuk beribadah kepada Rabb-nya dan meninggalkan manusia dari kejahatannya’.”(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

          Dan dalam hadits Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu,”Aku berkata,’Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?’Beliau menjawab,

اَمْلِكُ عَلَيكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَاَبْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ

‘Kendalikanlah lisanmu dan tetaplah tinggal di rumahmu serta tangisilah kesalahanmu’.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi Ahmad, dan lain-lain).

          Mereka yang menganggap bergaul dengan manusia itu lebih utama berdalil tentang sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الَّذِي لاَيُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Orang Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar menghadapi gangguan mereka itu lebih besar ganjarannya dari orang Mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar menghadapi gangguan mereka,” ( Diriwayatkan oleh Tirmidzi, Al-Bukhari, Ahmad, dan Abu Nuaim).

Manfaat Uzlah

  1. Dapat berkonsentrasi dan memfokuskan diri untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah. Dengan demikian, kita memiliki waktu yang lapang untuk itu. Waktu yang lapang untuk beribadah tidak didapatkan jika ia banyak bergaul dengan manusia.
  2. Dengan uzlah dapat menghindarkan diri dari berbagai macam maksiat yang pada umumnya tidak dapat dihindarkan apabila ia berkumpul dengan manusia. Di antaranya adalah empat macam kemaksiatan: a.     Ghibah’menceritakan kejelekan orang lain,’Jika berita itu sampai kepada orang yang menjadi bahan gunjingan, tentu ia tidak akan suka. b.     Tidak mengajak orang lain melakukan yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran.c.      Riya’ (ingin dipuji oleh orang lain), d.     Terpengaruh akhlak mereka yang buruk
  3. Terhindar dari fitnah ‘kekacauan’ dan permusuhan. Dengan menghindari sumber fitnah, berarti ia memelihara agamanya.
  4. Terhindar dari kejahatan manusia. Sesungguhnya mereka itu menyakitimu. Terkadang dengan berbuat ghibah, mengadu domba, berprasangka buruk, menuduh dengan tuduhan palsu, menzalimi dalam rangka memperoleh ketamakan-ketamakan mereka yang penuh dengan kepalsuan. Barang siapa yang bergaul dengan manusia, dia tidak dapat bebas dari gangguan manusia. Pasti ada orang yang hasad dan memusuhinya. Akan ada berbagai macam keburukan yang diperoleh dari orang-orang yang dikenalnya.
  5. Dapat memutuskan ketamakan manusia terhadapmu dan ketamakan terhadap manusia. Manusia menginginkan banyak hal darimu dan sesungguhnya mencari keridhaan manusia merupakan tujuan yang tidak pernah bisa dicapai. Memutuskan ketamakanmu dari mereka karena sesungguhnya siapa yang melihat perhiasan dunia akan terbetik keinginan untuk memperolehnya. Semakin sering seseorang melihat perhiasan dunia maka akan melahirkan ketamakan yang lebih besar terhadap dunia. Pada umumnya manusia gagal mencapai sesuatu yang dia inginkan. Maka tinggallah kekecewaan dan kepedihan yang ia rasakan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ لإفَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَتَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan janganlah melihat orang yang lebih tinggi dari kalian karena yang demikian itu akan membuat kalian tidak mengentengkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian,” (Diriwayatkan Muslim, Tirmidzi, dan lain-lain(

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.  (Thaha: 131)

6.  Terhindar dari berjumpa dengan orang-orang yang bodoh dan berakhlak buruk. Jika seseorang disakiti oleh mereka, biasanya langsung saja ia akan berbuat ghibah. Apabila ia dijelekkan, ia akan membalasnya. Hal yang demikian dapat merusak agamanya, maka dengan beruzlah dapat menyelamatkan agamanya.

 

Manfaat bergaul

Ketahuilah, diantara tujuan-tujuan agama dan dunia, ada yang hanya didapat dengan cara meminta bantuan orang lain. Oleh karena itu, mau tidak mau manusia harus bergaul dengan orang lain. Dan diantara manfaat bergaul dengan manusia adalah:

  1. Belajar dan mengajar. Barang siapa yang sudah mempelajari ilmu-ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain dan ia tidak mampu untuk menguasai ilmu-ilmu lainnya, lalu dia berpendapat untuk menyibukkan diri dengan beribadah, maka lakukanlah. Apabila ia mampu untuk mendalami ilmu-ilmu agama lain-nya-disamping yang fardhu ‘ain-maka janganlah ia beruzlah sebelum ia berusaha untuk menguasainya agar ia tidak mendapat kerugian. Oleh karena itu, Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Kuasailah ilmu agama, baru setelah itu beruzlahlah. Ilmu itu pokok ajaran agama. Tidak ada kebaikan dalam uzlahnya orang-orang awam.” Adapun mengajarkan ilmu kepada orang lain, maka dia mendapatkan pahala yang sangat besar, apabila benar niatnya. Tetapi, jika niatnya untuk mencapai kedudukan yang tinggi di hadapan manusia dan untuk mencari banyak pengikut, maka kebinasaanlah yang didapat, ditinjau dari segi agama. Kebanyakan di zaman sekarang ini para penuntut ilmu mempunyai tujuan dan niat yang buruk. Hal yang demikian mengharuskan bagi yang memiliki ilmu untuk meninggalkan mereka, tetapi jika didapati seorang penuntut ilmu karena allah dan berniat dengan ilmu-ilmunya itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka dia tidak boleh meninggalkannya, ia tidak boleh menyembunyikan ilmunya.
  2. Memberi dan mengambil manfaat dari manusia dengan cara bekerja dan bermuamalah. Orang yang membutuhkan pekerjaan dan bermuamalah dengan manusia terpaksa harus meninggalkan uzlah. Adapun orang yang berkecukupan untuk memenuhi kebutuhannya, maka uzlah lebih utama bagi dia. Tetapi, jika dia bekerja dan bermuamalah dengan manusia untuk memberikan kebaikan kepada orang lain- dengan cara bershadaqah dan lain sebagainya – maka hal yang demikian lebih utama dibandingkan dengan uzlah. Jika uzlahnya itu lebih bermanfaat bagi dia dalam mrngrnal Allah dan mendapatkan ketentraman dengannya – dengan penglihatan mata hatinya dan hujjah, bukan dengan khurafat dan khayalan yang merusak – maka uzlahnya lebih bermanfaat. Adapun memberi manfaat dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia bisa dengan harta atau tenaga. Barang siapa yang mampu melakukan itu semua dengan tidak keluar dari rel syariat yang telah digariskan, maka yang demikian itu lebih utama dari pada uzlah.
  3. Membina diri dan membina orang lain. Yang dimaksudkan dengan membina diri adalah melatih jiwa menghadapi kekasaran manusia dan berupaya menahan diri terhadap gangguan mereka, mengendalikan nafsu, dan mengekang syahwat. Yang demikian itu lebih utama dari uzlah bagi orang yang belum terlatih jiwa dan belum terpuji akhlaknya.  Adapun membina orang lain adalah melatih orang lain untuk menjadi baik. Memperbaiki sifat-sifat buruknya yang tidak terlihat, sebagaimana ia memperbaiki orang lain dengan menyebarkan ilmu.
  4. Menentramkan diri dari kesepian. Seperti, berkumpul dengan orang yang bertaqwa sebagai penghibur hati bagi jiwa yang gersang. Hendaklah refreshing tersebut tidak menyita waktu, dan yang dibicarakan adalah hal-hal yang berhubungan dengan agama.
  5. Mendapat pahala dan menjadi sebab orang lain mendapat pahala. Mendapat pahala dengan cara menghadiri jenazah, menengok orang sakit, menghadiri walimah, dan undangan lainnya. Dengan begitu, ia ikut menyenangkan saudara seiman. Menjadi sebab orang lain mendapat pahala. Dengan cara membukakan pintunya untuk tamu berta’ziah, menengok, dan mengucapkan selamat. Dengan sebab itu mereka mendapatkan pahala. Tetapi, haruslah ditimbang antara pahala yang didapat dengan bergaul dan kerugian-krugiannya, mana yang lebih menguntungkannya.
  6. Tawadhu’ ‘rendah hati’. Dia tidak akan mempunyai sifat tawadhu’ jika tidak bersosialisasi dengan manusia .

 

Ucapan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah tentang Bergaul dengan Manusia, Kerugian dan Batasannya.

          Adapun dampak negatif  akibat banyak bergaul dengan manusia adalah penuhnya hati dengan polusi asap dari nafas-nafas Bani Adam sehingga hati menjadi hitam. Keadaan itu menyebabkan hati menjadi kacau-balau. Kusut, gelisah, gundah gulana, dan menanggung beban karena memiliki teman-teman dekat yang jahat. Kepentingan-kepentingannya menjadi terbengkalai karena sibuk mengurusi kepentingan mereka. Pikirannya terbagi untuk selalu memenuhi keinginan-keinginan mereka. Apa yang tersisa darinya untuk Allah dan negeri akhirat?!

          Betapa banyak bencana, kehinaan, dan musibah yang di hasilkan akibat bergaul dengan manusia . Betapa banyak nikmat dan anugerah terhalangi akibat bergaul dengan manusia pula!

          Bukankah kerugian manusia itu disebabkan oleh manusia?! Bukankah yang merugikan Abu Thalib menjelang wafatnya adalah teman-teman yang jahat?! Mereka selalu berada di sisinya, menjadi penghalang bagi Abu Thalib untuk mengucapkan kalimat tauhid yang dapat menjamin dia mendapatkan kebahagiaan yang abadi.

          Pergaulan yang seperti ini – yang dilandasi sebagai rasa cinta dunia dan untuk memenuhi kepuasan naluri terhadap sesamanya – akan berbalik menjadi permusuhan, jika terungkap hakikat-hakikat yang ada. Dia akan menyesali hal itu sambil menggigit kedua tangannya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) Aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiKu; kiranya Aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).  Sesungguhnya dia Telah menyesatkan Aku dari Al Quran ketika Al Quran itu Telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan:27-29)

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf:67)

          Kekasih Allah, Nabi Ibrahim Alaihis-Salam, berkata kepada kaumnya dalam firman Allah yang artinya:

Dan Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia Ini Kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela’nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali- kali tak ada bagimu para penolongpun.”(Al-Ankabut:25)

          Ini merupakan perilaku setiap orang yang bertujuan sama. Mereka saling menyayangi satu sama lain, selama mereka masih saling bekerja sama untuk mendapatkannya. Apabila tujuan itu gagal dicapai, berbaliklah kasih sayang tersebut menjadi kemurkaan dan laknat serta celaan sebagian terhadap sebagian yang lain. Kegagalan itu diiringi dengan penyesalan, kesedihan, dan kepedihan. Ketika tujuan tersebut gagal dicapai, hal itu berbalik menjadi kesedihan dan penderitaan. Sebagaimana kita saksikan keadaan orang-orang yang ikut serta dalam tujuan yang sama di dunia ini, lalu mereka itu saling memberi hukuman satu sama lain. Kesimpulannya, setiap dua orang yang bekerja sama dalam suatu kebatilan – di mana mereka berdua saling menyayangi dan mencintai satu sama lain – maka haruslah suatu saat kasih sayangnya berbalik menjadi kebencian dan permusuhan.

          Batasan yang bermanfaat dalam pergaulan, hendaklah ia bergaul dengan manusia dalam kebaikan, seperti, shalat Jum’at, shalat berjama’ah, shalat ied, ibadah haji, menuntut ilmu, jihad, dan memberi nasihat. Hendaklah ia menjauhi mereka dalam keburukan dan dalam hal berlebih-lebihan dalam perkara-perkara mubah. Apabila terpaksa bergaul dengan orang-orang yang jahat dan tidak memungkinkan untuk menjauhi mereka, maka berhati-hatilah dan jangan sampai menyetujui mereka. Bersabarlah terhadap gangguan mereka – apabila dia tidak memiliki kekuatan dan penolong – karena sesungguhnya mereka pasti akan menyakitinya. Tetapi, gangguan itu nantinya akan diikuti dengan kemuliaan, kecintaan, penghormatan, dan pujian terhadap orang tersebut dari kaum Mukminin dan dari Allah Rabbul ‘Alamin. Sebaliknya, menyetujui mereka akan diiringi oleh kehinaan, kemarahan, kebencian, dan celaan terhadapnya dari mereka dan dari kaum Mu’minin serta dari Allah Rabbul ‘Alamin. Maka, sabar atas gangguan mereka lebih baik akibatnya dan lebih terpuji kesudahannya.

          Apabila terpaksa bergaul dengan mereka dalam hal berlebihan pada perkara-perkara yang mubah maka haruslah dia bersungguh-sungguh untuk mengubah majelis tersebut menjadi majelis taat kepada Allah. Hendaklah ia memotivasi dirinya dan menguatkan hatinya untuk hal itu. Jangan hiraukan bisikan setan yang berusaha untuk mematahkan niatmu dalam menjadikan majelis itu menjadi majelis ketaatan. Setan membisikkan, bahwa ini merupakan riya dan keinginan untuk menampakkan ilmu. Bisikan setan bermacam-macam, yang berusaha menyesatkanmu. Maka perangilah bisikan setan tersebut dan hendaklah minta pertolongan kepada Allah. Sebisa mungkin untuk mengubah suasana dalam majelis mereka itu ke dalam kebaikan.

          Apabila tidak memungkinkan melakukan hal itu, maka berilah sedikit perhatianmu kepada mereka, seperti jatuhnya satu rambut ke dalam adonan tepung. Jadilah kamu di sisi mereka sebagai orang yang hadir tetapi ghoib, dekat tetapi jauh, bangun tetapi tidur. Melihat mereka, tetapi tidak memahaminya karena ia telah mengambil hatinya dari mereka. Hatinya telah terbang tinggi ke langit, bersama ruh-ruh yang suci dan berkedudukan tinggi. Betapa berat dan sulitnya hal ini bagi jiwa-jiwa manusia! Tetapi, hal itu sangat mudah bagi orang-orang yang Allah mudahkan atasnya. Hendaknya seorang hamba selalu jujur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selalu kembali kepada-Nya, mengetuk dan menghamparkan diri di depan pintu-Nya, merengek dengan menghinakan diri. Hal itu dibantu dengan cinta yang sejati, dzikir yang langgeng dengan hati dan lisan. Hal ini bisa dicapai hanya dengan bekal amal shalih, kekuatan dari Allah Ta’ala, tekad yang bulat, serta tidak bergantung kepada selain Allah.

Kesimpulan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata,

          “Adapun ucapan si penanya, ‘Manakah yang lebih utama bagi orang yang berjalan di jalan Allah, antara uzlah dan bergaul dengan manusia?’ Meskipun ulama berselisih pendapat di dalam masalah ini – baik perselisihan yang menyeluruh atau perselisihan yang sifatnya kondisional – pada hakikatnya, terkadang kita diperintahkan untuk bergaul dengan manusia dan terkadang kita diperintahkan untuk mengisolir diri dari mereka. Kesimpulannya, bahwa bergaul dengan manusia diperintahkan apabila terdapat di dalamnya kerja-sama dalam kebaikan dan taqwa. Apabila terdapat di dalamnya kerja sama dalam dosa dan permusuhan, maka hal itu dilarang. Dianjurkan untuk bergaul dengan kaum Muslimin dalam peribadatan, seperti, shalat berjamaah lima waktu, shalat Jum’at shalat Idul Fitri dan Idul Adha, shalat kusuf, shalat istisqa, dan lain sebagainya. Hal itu merupakan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

          Begitu pula bergaul dengan kaum Muslimin dalam ibadah haji dan dalam memerangi orang-orang kafir serta kaum khawarij yang telah keluar dari rel Islam, bersama penguasa dan kaum Muslimin lainnya. Meskipun penguasa tersebut adalah orang-orang yang fajir ‘banyak melakukan dosa.’ Begitu pula pertemuan-pertemuan dengan manusia yang dapat menambah iman. Baik ia mengambil manfaat dari orang lain atau pun ia memberi manfaat kepada orang lain, dan yang semisalnya.

          Haruslah seorang hamba memiliki waktu-waktu khusus untuk menyendiri, yang ia gunakan untuk berdo’a, berdzikir, mengerjakan shalat-shalat sunnah, tafakur, mengintrospeksi diri, memperbaiki hatinya, dan hal-hal khusus lainnya. Dengan tidak menyertakan orang lain. Perkara-perkara tadi dibutuhkan dengan cara menyendiri. Bisa dilakukan di rumahnya, sebagaimana ucapan Thawus, “Sebaik-baik tempat peribadatan seseorang adalah rumahnya. Ia bisa menahan mata dan lisannya.” Atau bisa pula dilakukan ditempat lainnya.

          Memilih antara bergaul dengan manusia dan beruzlah, hal itu tidak dapat dilakukan secara mutlak. Adapun kadar yang dibutuhkan oleh setiap manusia dalam uzlah dan bergaul – apa yang lebih tepat baginya dalam setiap keadaan – hal tersebut membutuhkan penelitian yang khusus. Sebagaimana telah disebutkan sebelum ini.

          Al-Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata,

          “Apabila engkau sudah tahu manfaat-manfaat dan kerugian-kerugian beruzlah, maka tidaklah bisa dihukumi secara mutlak mana yang lebih utama, uzlah atau bergaul dengan manusia. Akan tetapi, haruslah dilihat individu, kondisi, dan orang yang ditemaninya. Juga harus diperhatikan faktor apa yang mendorongnya untuk bergaul. Apa sisi positif dan negatif akibat berhubungan dengan orang lain? Lalu, bandingkan antara keduanya, baru setelah itu menjadi jelas mana yang lebih utama antara keduanya.

          Imam Syafi’i Rahimahullah berkata, “Tertutup dari manusia memicu permusuhan, dan terbuka kepada mereka mendatangkan keburukan. Jadilah engkau ditengah-tengah antara keduanya.”

          Barangsiapa menyimpulkan selain dari kesimpulan ini, maka tidak lengkap sebab dia hanya menyimpulkan tentang keadaan dirinya sendiri, tidak bisa diterapkan untuk orang lain yang kondisinya berbeda.

          Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata,

          “Ketahuilah, bahwa yang paling utama adalah seorang Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka. Orang yang seperti itu lebih utama dari seorang Mukmin yang tidak bergaul dengan manusiaa dan tidak sabar atas gangguan mereka. Tetapi, terkadang terjadi perkara-perkara yang menjadikan uzlah itu lebih baik daripada bergaul dengan manusia, apabila manusia takut fitnah mengenai dirinya. Seperti, tinggal di negeri yang diterapkan peraturan-peraturan yang mengharuskan seseorang menyimpang dari agamanya, harus mendakwahkan bid’ah, atau ia melihat bahwa kemaksiatan telah merajalela. Jika ia takut terimbas dan terjerumus ke lembah dosa dan nista, maka dalam kondisi yang seperti itu, dia lebih baik beruzlah.

Uzlah itu lebih baik, jika dengan bergaul dapat menimbulkan keburukan dan kerusakan bagi agamanya. Apabila tidak menimbulkan keburukan dan fitnah-maka kembali ke hukum asal-bahwa bergaul dengan manusia itu lebih utama. Jika dengan bergaul ia dapat melakukan amar ma’ruf nahi munkar, berdakwah menyampaikan kebenaran, menjelaskan tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka hal ini lebih baik bagi baginya.”

(Dikutip dari buku Adab Bergaul Agar Dicintai Allah Kemudian Dicintai Manusia, Darul Falah, Jakarta)

Incoming search terms:

  • Madharat
  • manfaat bergaul