Ghoddhul Bashor Sudahkah Kita Mengamalkannya?

Ghaddhul bashor perintah menundukan pandangan dalam IslamPandangan adalah cermin dan pintu gerbang pembuka bagi hati. Barangsiapa yang mampu menjaga pandangannya, tidak melihat yang haram, maka akan bagus hatinya. Namun, bagi yang tidak memperhatikan pandangannya bahkan malah mengumbar pandangan, bersiaplah bahwa penyakit akan datang menggerogoti hati dan membuatnya menderita dengan segala kepayahan. Seorang muslim tentu akan berusaha membersihkan hatinya, salah satu caranya adalah dengan senantiasa ghoddul bashor. Apa dan bagaimana ghoddhul bashor itu? Cermati ulasan berikut ini. Allohul Muwaffiq.

A. Definisi Ghoddhul Bashor

Ghoddul bashor adalah seorang muslim menundukkan pandangannya dari perkara-perkara yang haram yang tidak boleh dilihat. Dia tidak melihat kecuali yang dibolehkan baginya untuk dilihat. Apabila tidak sengaja melihat sesuatu yang haram, hendaknya segera memalingkan pandangannya.[1]

B. Pandangan adalah nikmat dari Alloh

Sesungguhnya di antara nikmat Alloh yang diberikan kepada hambaNya adalah nikmat pandangan. Alloh menggambarkan besarnya nikmat pandangan ini dalam beberapa ayat, diantaranya:

أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.” (Qs. al-Balad: 8)

Alloh juga berfirman:

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

Katakanlah: ‘Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.’ (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur.” (Qs. al-Mulk: 23)

Bahkan karena besarnya nikmat pandangan dan mata ini, Alloh menjanjikan surga bagi orang yang kehilangan kedua matanya lalu dia bersabar. Dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah bersabda, “Alloh berfirman:

إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِى بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ

“Apabila Aku menguji hambaku dengan hilangnya dua kecintaannya (kedua mata) kemudian dia sabar, maka akan Aku gantikan baginya surga.”[2]

Akan tetapi sebagian manusia tidak menggunakan nikmat ini dalam perkara yang bermanfaat dan ketakwaan. Mereka tidak menggunakan mata mereka untuk membaca Al-Qur’an. Mereka tidak menggunakan mata mereka untuk membaca ayat-ayat Kauniyyah yang dapat menambah keimanan seorang muslim. Bahkan malah sebaliknya, mereka menggunakan mata mereka untuk pekara-perkara yang haram seperti melihat wanita yang tidak halal baginya dan melihat gambar-gambar yang tidak pantas dilihat baik di media cetak maupun elektronik seperti televisi!!

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya manusia akan ditanya oleh Alloh akan nikmat pandangan ini. Sebagaimana Alloh berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Qs. al-Israa: 36)

Walhasil, wajib bagi setiap muslim untuk menjaga pandangannya dan menggunakannya untuk ketaatan kepada Alloh, agar tidak menjadi petaka bagi dirinya.

C. Perintah menundukkan pandangan

1. Dari Al-Qur’an

Alloh berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…’” (Qs. an-Nuur: 30-31)

Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Ini adalah perintah Alloh kepada para hambaNya yang beriman agar mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka dari perkara-perkara yang haram mereka lihat. Maka janganlah mereka melihat kecuali apa yang dibolehkan bagi mereka. Apabila tanpa sengaja melihat sesuatu yang haram maka hendaknya dia segera memalingkan pandangannya.”[3]

Imam Syaukani: “Alloh mengkhususkan penyebutan wanita dalam ayat ini sebagai bentuk penekanan yang kuat terhadap perintah, karena pada asalnya wanita itu sudah termasuk dalam seruan yang ditujukan kepada kaum lelaki sebagaimana seruan-seruan yang termaktub dalam al-Qur’an.”[4]

Huruf Min dalam firman Alloh Min Abshorihim adalah bermakna sebagian. Maksudnya, seolah-olah Alloh hanya mengkhususkan perintah menundukkan pandangan dalam sebagian jenis pandangan saja. Dan memutlakkan sebagian pandangan yang lain seperti melihat mahramnya atau melihat untuk suatu kebutuhan.[5]

2. Dari Sunnah

Hadits yang bersumber dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwasanya Rasululloh bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِى الطُّرُقَاتِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ ». قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الأَذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Waspadalah kalian dari duduk-duduk di pinggir jalan. Para sahabat bertanya ‘Wahai Rasululloh, tidaklah kami duduk-duduk kecuali hanya sekedar berbincang-bincang.’ Maka Rasululloh mengatakan, ‘Apabila kalian tetap ingin duduk-duduk di jalan, maka berikanlah jalan itu haknya.’ Para sahabat bertanya kembali, ‘Apa haknya wahai Rasululloh?’ Rasululloh menjawab, ‘Tundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, dan amar ma’ruf nahi munkar.’”[6]

Imam Ibnul Qayyim menuturkan: “Pandangan adalah asal seluruh bencana yang menimpa manusia. Bermula dari pandangan akan melahirkan keinginan, dan keinginan akan melahirkan pemikiran. Dari pemikiran akan melahirkan syahwat (hawa nafsu) yang pada akhirnya syahwat itu akan mendorong menjadi keinginan yang sangat kuat hingga terjadi apa yang dia inginkan.”[7]

Yang kedua hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya dia berkata: “Fadhl pernah dibonceng oleh Rasululloh. Kemudian ada seorang wanita Khots’am yang lewat, lantas Fadhl melihat wanita itu, dan wanita itupun melihat Fadhl. Melihat kejadian tersebut, dengan segera Nabi memalingkan wajah Fadhl ke arah yang lain.”[8]

D.Hukum mengumbar pandangan

Ketahuilah wahai saudaraku, mengumbar pandangan ada dua macam[9]:

Pertama: Terlarang, yaitu mengumbar pandangan kepada sesuatu yang Alloh haramkan untuk dilihat. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Alloh yang berbunyi:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Qs. al-Mu’min: 19)

Imam Syinqithi mengatakan: “Didalam ayat ini terdapat ancaman bagi yang khianat dengan matanya, yaitu dengan melihat kepada orang yang tidak halal baginya.”[10]

Sesungguhnya mengumbar pandangan dengan melihat sesuatu yang haram adalah asal segala fitnah. Dia adalah penggiring ke dalam hawa nafsu dan niat jahat. Orang yang mengumbar pandangan sama saja mendatangkan kebinasaan untuk dirinya. Karena mata adalah cerminan hati, apabila seseorang menundukkan pandangan, maka hatinya akan menundukkan syahwat dan hawa nafsunya, sebaliknya, bila dia mengumbar pandangannya, maka hatinya akan melepas syahwat dan hawa nafsunya. Ingatlah selalu bahwa mata yang digunakan untuk melihat yang haram kelak pada hari kiamat akan ditanya dan diminta pertanggungan jawabnya! Alloh berfirman:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Qs. al-Israa: 36)

Imam al-Qurthubi mengatakan: “Pandangan adalah pintu terbesar menuju hati dan jalan yang paling padat, karenanya banyak yang terjatuh dan tergelincir di dalamnya. Wajib memberi peringatan keras dalam masalah pandangan. Menundukkan pandangan dari perkara yang haram dan segala sesuatu yang dikhawatirkan terjadi fitnah karenanya adalah wajib.”[11]

Bahkan Rasululloh membuat permisalan bahwa kedua mata zinanya adalah dengan melihat. Beliau bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Telah ditulis bagi anak adam bagiannya dari zina, dia pasti mendapatinya tidak mustahil. Kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah melangkah. Hati berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan kemaluan itulah yang akhirnya membenarkan atau mendustakannya.”[12]

Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Nabi memulai dengan menyebutkan zinanya mata karena mata adalah asal zinanya tangan, kaki, hati dan kemaluan. Hadits ini merupakan dalil yang paling jelas bahwa mata dapat bermaksiat dengan pandangan dan itulah bentuk zinanya. Di dalam hadits ini terdapat bantahan bagi orang yang membolehkan melihat secara mutlak.”[13]

Kedua: Mengumbar pandangan dalam perkara yang tidak haram.

Dalam hal ini ada dua macam:

1. Melihat yang sifatnya tidak bisa dihindari dan kebetulan saja.

2. Melihat-lihat untuk suatu yang diperintah oleh Alloh, seperti orang yang menjaga perbatasan saat jihad, atau seperti melihat ciptaan Alloh yang menunjukkan kekuasaanNya, maka hal yang semacam ini dibolehkan. Alloh berfirman:

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus: 101)

E. Manfaat menundukkan pandangan

Orang yang menjaga pandangannya, dia akan mendapat beberapa manfaat dan keutamaan di antaranya:

1. Kelezatan iman

Karena orang yang meninggalkan melihat sesuatu yang haram karena Alloh, Alloh akan gantikan dengan yang lebih baik.

2. Hatinya bersinar dan bercahaya

Ketika seorang meninggalkan maksiat dari melihat sesuatu yang haram, maka Alloh akan bukakan pintu cahaya di dalam hatinya. Oleh karena itu Alloh menyebutkan setelah ayat yang memerintahkan ghoddhul bashor dengan firmanNya:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (Qs. an-Nuur: 35)

Juga Rasululloh bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ

“Jika seorang mukmin berbuat dosa, maka akan terdapat bintik hitam dalam hatinya. Jika dia taubat, berhenti, dan meminta ampun, maka akan bersih hatinya.”[14]

3. Terjaga dari keharaman

Hal ini sangat jelas sekali karena orang yang selalu menjaga pandangannya akan terhindar dari keharaman dan dosa sehingga menjadikan dirinya suci dan terjaga.

4. Sebagai bentuk taat kepada Alloh dan RasulNya

Hal inipun sangat jelas sebagaimana telah kita ketahui dalil-dalil yang memerintahkan ghoddhul bashor. Orang yang mengamalkannya berarti telah taat kepada Alloh dan RasulNya.

5. Mencegah maraknya perzinaan dalam masyarakat

Inilah manfaat ghoddhul bashor yang paling besar karena dapat mencegah seseorang dari berbuat zina. Bila

setiap individu masyarakat mampu menjaga dan mencegah dirinya dari berbuat zina, maka ini akan membangun kondisi masyarakat yang baik.

F. Pandangan tiba-tiba

Dari Jarir bin Abdillah dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasululloh tentang pandangan tiba-tiba.

Maka beliau memerintahkanku agar memalingkan pandanganku.”[15]

Imam Baihaqi mengatakan: “Ini adalah yang wajib mengenai pandangan yang tiba-tiba yaitu untuk memalingkan matanya.”[16]

Rasululloh berkata kepada Ali bin Abi Thalib:

يَا عَلِىُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ

Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan kepada pandangan berikutnya. Karena bagimu hanya pandangan pertama, tidak yang lain.”[17]

Imam Ibnul Qayyim menuturkan: “Pandangan yang tiba-tiba, dia adalah pandangan yang pertama (kali) yang terjadi tanpa niat dari orang yang melihat. Maka selama hati itu tidak menyengaja, tidak ada dosa baginya. Apabila dia sengaja melihat untuk yang kedua kalinya, sungguh dia telah berdosa. Nabi memerintahkan ketika melihat tiba-tiba untuk segera memalingkan pandangan dan tidak memperlama pandangannya. Seperti misalkan dengan mengulang-ulang melihat dsb. Nabi pun memberikan petunjuk bagi orang yang mengalami pandangan tiba-tiba (yaitu) melihat wanita yang menakjubkannya untuk segera mengobati dengan mendatangi istrinya.”[18]

Imam al-Khotthoobi mengatakan: “Pandangan pertama dibolehkan, tidak ada dosa apabila terjadi secara tiba-tiba tanpa niat dan kesengajaan. Tidak boleh baginya untuk mengulang pandangan yang kedua dan tidak boleh pula sengaja memulai melihat atau mengulanginya.”[19]

G. Kiat mengatasi keinginan yang terlintas sebab pandangan

Imam Ibnul Jauzi berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya apabila engkau mengerjakan yang diperintahkan berupa ghoddhul bashor ketika pertama kali melihat wanita, niscaya engkau akan selamat dari berbagai macam bencana yang tidak terhitung. Apabila engkau mengulang-ulang melihatnya, maka berarti engkau telah menanamkan di dalam hatimu suatu tumbuhan yang sulit dicabut. Bila ini telah terjadi padamu, obatnya adalah dengan menjaga pandangan dalam kesempatan yang berikutnya dan tidak meneruskan pikiran yang terlintas karena sebab memandang. Tidak ada penyembuhan yang paling mujarab bagi orang yang terkena penyakit pandangan ini kecuali dengan memutus sebabnya dan selalu takut kepada Alloh dari siksaNya. Apabila engkau mengerjakan hal ini, maka keselamatan telah dekat pada dirimu.”[20]

Lalu, apabila ada yang bertanya bagaimana cara mengobati pikiran yang terlintas karena sebab melihat wanita yang mengagumkannya, jawabnya tidak ada obat yang paling mujarab kecuali petunjuk Nabi didalam haditsnya yang bersumber dari Jabir bin Abdillah bahwasanya Rasululloh suatu hari pernah melihat wanita yang menakjubkannya, maka dengan segera beliau pulang dan menunaikan hajatnya kepada istrinya Zaenab. Setelah itu beliau besabda kepada para sahabatnya:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita datang dan pergi seperti dalam bentuk setan. Apabila seseorang melihat wanita yang menakjubkannya maka hendaklah dia menemui isterinya. Karena hal itu dapat menolak apa yang terlintas dalam dirinya.”[21]

Imam Nawawi mengatakan: “Dan makna hadits ini adalah bahwasanya dianjurkan bagi orang yang melihat wanita kemudian syahwatnya tergerak maka hendaknya ia mendatangi istrinya atau budak perempuannya apabila dia punya, untuk menunaikan hajatnya (mengumpulinya) agar gelora syahwatnya reda dan jiwanya menjadi tenang.”[22]

H. Kapan Dibolehkan Melihat Wanita?

Pembahasan di atas menegaskan bahwa tidak boleh bagi seorang laki-laki melihat wanita yang bukan mahromnya. Akan tetapi hal ini dikecualikan dalam dua perkara:

Pertama: Melihat wanita yang akan dinikahinya

Boleh bahkan dianjurkan bagi laki-laki yang akan menikahi seorang wanita untuk melihatnya terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang sangat banyak, diantaranya hadits yang bersumber dari Abu Hurairoh bahwasanya ada seorang laki-laki yang akan menikah dengan seorang wanita Anshor, maka Rasululloh bertanya kepadanya: Apakah engkau sudah melihatnya? Laki-laki itu menjawab: belum. Rasululloh akhirnya bersabda:

فَاذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّ فِى أَعْيُنِ الأَنْصَارِ شَيْئًا

“Pergi sana lihatlah dia, karena pada mata wanita Anshor itu ada sesuatu.”[23]

Syaikh al-Albani berkata: “Di dalam hadits-hadits yang telah berlalu penyebutannya menunjukkan disyariatkannya melihat wanita yang akan dinikahi, sama saja dengan izin wanita tersebut atau tanpa sepengetahuan dan izinnya.”[24]

Kedua: Ketika dalam kondisi terpaksa dan butuh

Berdasarkan kisah Hatib bin Balta’ah yang mengirim surat bocoran kepada kaum Quraisy melalui perantara seorang wanita. Lalu Nabi mengutus Ali dan Zubair seraya berkata kepada keduanya: Datangilah lembah itu, nanti kalian berdua akan mendapati seorang wanita yang membawa surat dari Hatib. Tatkala keduanya tiba, mereka langsung bertanya kepada wanita tersebut: Kami menginginkan surat. Wanita itu menjawab: Aku tidak diberikan apa-apa. Kami berkata kembali: Kamu berikan surat itu atau kami akan menelanjangimu!! Akhirnya wanita itu mengeluarkan surat tersebut dari balik sanggul rambutnya.”[25]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkomentar: “Hubungan hadits ini sangat jelas yaitu dalam masalah melihat rambut.”

Imam an-Nawawi mengatakan: “Apa yang telah kami sebutkan dari beberapa permasalahan tentang haramnya melihat wanita yang bukan mahrom hal itu selama tidak ada kebutuhannya. Apabila ada kebutuhan syar’i maka boleh melihatnya, seperti dalam kondisi jual beli, pengobatan, atau ketika wanita menjadi saksi, akan tetapi dalam kondisi seperti ini haram melihatnya dengan syahwat dan nafsu.”[26]

Demikianlah ulasan ringkas seputar ghoddul bashor. Semoga Alloh selalu menjaga mata-mata kita dari melihat yang haram dan memalingkannya hanya untuk ketaatan. Amiin. Allohu A’lam.



Catatan kaki:

[1] Tafsir Ibnu Katsir 2/598, Nadhrotun Na’im 7/3071

[2] HR. Bukhari 5653

[3] Tafsir Ibnu Katsir 3/282

[4] Fathul Qodir 4/22

[5] Ahkam an-Nazhor hal.18

[6] HR. Bukhori: 2333, Muslim: 2121

[7] Aljawaabul Kaafi hal.79

[8] HR. Bukhari: 1442, Muslim: 1334

[9] Nadhrotun Na’im 9/3905-3906

[10] Adhwaaul Bayan 6/190.

[11] Tafsir al-Qurthubi 2/148

[12] HR. Bukhari: 6243, Muslim: 2657

[13] Roudhotul Muhibbin hal.93

[14] HR. Tirmidzi: 3334, Ibnu Majah 4244, Ahmad 2/297 dll. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Jami’ as-Shoghir no.1666

[15] HR. Muslim 1699

[16] Sunan al-Kubro 7/79-90

[17] HR. Abu Dawud: 2149, Tirmidzi: 2777, Ahmad 5/351, Hakim 2/194. Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini Hasan. Lihat Shohih sunan at-Tirmidzi no.2777

[18] Roudhotul Muhibbin hal.96

[19] Ma’aalim as-sunan 3/70

[20] Dzammul Hawaa hal.144

[21] HR. Muslim: 1403

[22] Syarah Shahih Muslim 9/178

[23] HR. Muslim: 1424

[24] As-Shohihah 1/155

[25] HR. Bukhari: 2915

[26] Syarah Shohih Muslim 3/31