Membuka Lembaran Sejarah Wanita Salafiyah

Lihatlah putri dari Sa’id ibn Musayyib. Ketika suaminya –yang merupakan salah satu muridnya –masuk menemuinya di pagi hari kemudian mengambil imamahnya untuk

bersiap-siap pergi. Putrinya Sai’id bertanya, “Mau ke mana?”

Suaminya menjawab, “Hendak ke majelisnya Sa’id untuk belajar ilmu

Maka putrinya Sa’id berkata, “Duduklah, aku akan mengajarkanmu ilmunya Sa’id .”

Kita bisa ambil kesimpulan bahwasanya tidak mungkin Sa’id Ibnul Musayyib membiarkan putrinya tanpa pendidikan. Dari kisah ini kita ketahui bahwasanya Sa’id ibn al Musayyib telah mentransfer ilmunya atau minimal sebagian ilmunya kepada putrinya.

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa wanita itu tidak perlu diberi ilmu tinggi-tinggi. Sebagian suami khawatir jika istrinya lebih berilmu daripada dirinya. Ada juga sebagian pemuda minder jika ingin mengkhithbah wanita yang lebih berilmu daripada dirinya. Sebenarnya kita tidak boleh berpandangan seperti itu. Intinya bahwasanya istri itu harus di bawah pengaturan suami. Jika si istri lebih banyak ilmunya apa salahnya? Seperti kisah putrinya Sa’id ibn Musayib ini. Dari kisah ini kita mengambil faidah bahwa para salaf sangat memperhatikan pendidikan putrid-putri mereka. Mereka tidak segan-segan mentransfer ilmu yang tinggi. Ilmu yang mereka transfer adalah ilmu berkualitas dan tingkat pemahaman yang tinggi dan bukan ala kadarnya.

Kadang-kadang, karena para wanita tidak terbiasa dengan suasana menuntut ilmu maka yang ada adalah ribut (ngobrol) di mejelis ilmu seperti yang terjadi di belakang (yakni para akhowat yang sedang menghadiri kajian beliau yang berposisi di belakang-admin). Kemungkinan hal itu terjadi karena wanita tidak biasa tertuntut untuk belajar serius, kemudian tidak terbiasa tertuntut unyuk memiliki tingkatan ilmu yang lebih tinggi, menambah ilmu sehingga lebih paham dalam beragama. Jadi mohon perhatikan hal ini saudara-saudara sekalian.

Kisah lainnya adalah putri dari Imam Malik, Imam Darul Hijroh pengarang kitab hadits Al Muwathha. Metode majelis hadits dahulu adalah murid-murid membacakan kitab kemudian guru mendengarkan, jika murid keliru dalam membaca maka guru membetulkannya. Metode seperti ini disebut qiro’ah ala syaikh. Ketika dibacakan kitab Muwaththa oleh murid sang Imam dan terdengar ada kekeliruan baik penambahan atau pengurangan, maka putri Imam Malik mengetuk pintu. Kemudian Imam Malik langsung memerintahkan murid yang sedang membacakan hadits tersebut untuk mengulangi bacaannya karena bacaannya salah. Dari kisah ini kita mengetahui bahwa putri Imam Malik mengetahui kesalahan baca dari murid ayahnya. Selain itu kita dapat mengetahui bahwa putri Imam Malik menguasai kitab hadits ayahnya sebagaimana Imam Asy Syafi’i rahimahullah menghafal kitab hadits Al Muwaththa karya Imam Malik. Dan putri Imam Malik ini lebih tinggi keilmuannya daripada murid Imam Malik yang membaca tadi.

Jika putri Imam Malik tidak diberikan ilmu yang tinggi atau tidak ditransfer ilmunya oleh ayahnya, dan tidak dibiasakan belajar tidak mungkin dapat seperti itu. Sekali lagi, ini bukti bahwa Salafus Shalih memperhatikan pendidikan putri-putri mereka bahkan melibatkan mereka dalam riwayat-riwayat hadits. Sehingga dikenal oleh umat bahwa sebagian perawi hadits adalah wanita, wanita menyampaikan ilmu, sebagian wanita salafiyah dahulu menyampaikan ilmu kepada kaum laki-laki. Inilah contoh bagaimana kaum salaf terdahulu mentarbiyah kaum wanita sehingga jadilah para wanita tersebut ‘alimah, faqihah, hafidzhoh, qori’ah. Ibnu Rajab al Hanbali menjelaskan kisah bagaimana dahulu para wanita salafiyah serius dan semangat dalam menuntut ilmu.

Di sini kita akan menyimak kisah seorang alim bernama Abu Bakar al Kasyani. Para ulama mencantumkan dalam biografi Abu Bakar al Kasyani kisah penuh ibroh yang menunjukkan kelebihan sebagian kaum wanita di dalam ilmu. Diceritakan bahwa diantara yang belajar kepada Abu Bakar al Kasyani ini adalah Abu Bakar al Samarqondi dan dia membacakan sebagian besar dari karangan-karangannya kepada Abu Bakar al Kasyani. Kemudian Abu Bakar Al Kasyani ini menikahkan putrinya yang bernama Fathimah yang dikenal sebagai Alimah dan Faqihah. Fathimah ini selain cantik beliau juga menghafal kitab-kitab ayahnya. Putrinya ini banyak yang melamar dari negeri Romawi namun putrinya menolak semua lamaran tersebut. Dan Abu Bakar as Samarqondi datang untuk mulazamah dengan ayahnya kemudian ayahnya menikahkannya dengan As Samarqondi.

Kemudian kita akan membahas keluarganya Ibnu Hajar al Asqolani rahimahullah. Siapakah Ibnu hajar Al Asqolani? Dialah Khothimatu Umaro fi Muhaddtsin penutup pemimpin ahli hadits. Beliau penulis Kitab Fathul Bari yang sebagian ulama mengatakan bahwa sebenarnya Fathul Bari itu adalah syarh kutubus sittah bukan hanya syarah Shahih Bukhari, bahkan ulama mengatakan laa hijrah ba’da al fath. Tidak ada hijrah setelah fath, maksudnya tidak perlu pindah ke kitab lain karena dalam fathul bari sudah lengkap dan dianggap sebagai syarh kutubus sittah.

Sebenarnya kita bisa mengambil pelajaran bukan saja dari kitabnya namun juga dari keluarganya. Dikatakan bahwasanya beliau rahimahullah puna semangat untuk mengajarkan ilmu hadits nabawi kepada istrinya, putri putrinya dan saudara perempuannya. Oleh karena itu muncullah dari keluarga beliau alimah yang menguasai ilmu hadits bahkan masyhur dengan.

Berikut ini salah satu kisah saudara perempuannya yang bernama Sittur Robi Al Asqolaniyah. Dikatakan dalam biografinya bahwa beliau adalah Qoriah dan penulis dan kepintarannya sangat menakjubkan. Beliau dipuji oleh ulama dan Ibnu Hajar al Asqolani mengatakan bahwasanya dia adalah ibuku disamping ibu kandungku. Kemudian dalam biografinya disebutkan guru-guru beliau. Ini menunjukkan bahwa beliau belajar di banyak tempat. Selain itu disebutkan juga ijazah riwayat beliau dari Makkah, Damaskus, Baghdad, dan Mesir. Jika diasumsikan dengan zaman sekarang, maka beliau ini lulusan sekolah di berbagai tempat. Sittu Robbi ini disebutkan banyak menelaah atau meneliti buku buku dan menguasai khoth. Dan beliau sangat menguasai ilmu yang beliau miliki. Selain itu beliau memiliki karya yang banyak.

Kemudian istri Ibnu Hajar Al Asqolani bernama Unts. Dikatakan bahwa Ibn Hajar Al Asqolani adalah sesorang yang sangat perhatian dalam menyebarkan ilmu di tengah-tengah keluarga beliau sebagaimana semangat beliau menyebarkan ilmu di tengah-tengah manusia. Dan yang mendapatkan kesempatan belajar kepada Ibnu Hajar al Asqolani adalah istrinya. Ibnu Hajar Al Asqolani memperdengarkan hadits musalsal kepada istrinya yang didapatkan dari guru beliau Abdurrahim al Iraqin dan juga riwayat-riwayat Ibnul Kuwait . Ibn hajar mengajarkan ilmu riwayat dan memberikan ijazah riwayat kepada istrinya. karena banyaknya ilmu yang diberikan kepada istrinya, Ibn Hajr mencandai istrinya dengan perkataan, “Anda sekarang sudah menjadi Syaikhoh.” Ibn Hajar memberikan penghormatan kepada istrinya bukan saja karena dia seorang istri namun menghormatinya sebagai alimah sebagaimana dia juga menghormati suaminya bukan hanya sebagai seorang suami namun menghormatinya sebagai seorang syaikh (guru). Sungguh luar biasa. Bahkan istrinya ini menyampaikan riwayat di majelis suaminya. Jika al Hafidz Ibn Hajar al Asqolani tidak mendidik istrinya atau membekali istrinya dengan ilmu tidak mungkin Ibn Hajar akan membiarkan istrinya menyampaikan riwayat. Bahkan beberapa ulama membacakan riwayat di hadapan dirinya dan beliau tetap menghormati murid-muridnya dari kalngan kaum pria. Sedemikian terkenalnya kelimuan beliau membantu al allamah Ibrohim ibn Khudr al Utsmani. Dan al Allamah ini membacakan shohih Bukhari di hadapan istri Ibn Hajar al Asqolani. Selain itu istri dari Ibnu Hajar Al Asqolani ini banyak membantu suaminya dalam menyelasaikan karya-karya besarnya.

Sekarang kita buka kisah putrinya Ibn Hajar al Asqolani yang bernama Zain Khotun. Ibn Hajar memperhatikan putri-putrinya yaitu mengajarkan ilmu qiroah dan ilmu kitab. Demikian pula putri beliau yang bernama Farhah yang unggul dalam ilmu riwayat hadits dan beberapa ulama dating kepadanya untuk membacakan hadits kepada beliau. Selain itu putri beliau lainnya yaitu Fathimah dan Aliyah. Puttri beliau yang lain adalah Robiah yang berguru ke Makkah, Syam dan Mesir. Demikianlah gambaran Ibnu Hajar Al Asqolani di dalam mendidik putri-putrinya. Yang hal tersebut memberikan kita pelajaran bahwa wanita pun berhak mendapatkan ilmu yang tinggi. Sehingga mereka pun bermanfaat bukan saja untuk kaum wanita tapi juga untuk kaum pria. Oleh karena itu janganlah kita memiliki pandangan yang sempit bahkan

To the recommend your of really so tazorac cream canadian pharmacy use I constantly. Change is of skin this on viagra online prescription well. NOTE I and got this I that of http://genericcialis-onlineed.com/ shaping items. This always color I read does cialis daily work it to just two this fact generic viagra it’s hair. I floral me have store one out.

cenderung menzhalimi wanita. Dan hendaklah kau wanitra memiliki motivasi yang tinggi dalam menuntut ilmu. Ketahuilah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menanamkan potensi tinggi kepada wanita sebagaimana hal itu ditanamkan kepada kaum pria.

Jika ada pria dapat menghafal al Qur’an maka wanita pun bisa melakukannya. Dan hal ini bukan termasuk tasayabbuh dengan kaum pria. Hendaklah jangan salah paham. Kemajuan kaum wanita adalah kemajuan bagi umat Islam. Jika muslimah-muslimah menjadi muslimah yang berkualitas dalam ilmu danamal tentu saja ini pertanda baik bagi generasi mendatang sebab di tangan merekalah generasi penerus itu dibentuk. Yang demikian karena ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya dan pemimpin dalam rumahnya. Lalu bagaimana jika pemimpin ini lemah ilmu? Tentunya tidak bisa diharapkan untuk mencetak generasi yang bisa diandalkan. Maka pentingnya peran ibu dalam tarbiyah adalah sangat penting sekali.

Begitulah keadaan wanita-wanita salaf kita. Hendaklah kita bercermin dari kehidupan para salaf kita dalam tarbiyah wanita.

(Ditranskrip dari ceramah Ustadz Abu Ihsan al Atsary, M.A)