Pesona Taman Surga

Orang-orang beriman terpesona dengan Taman Surga. Adapun orang yang terdapat benih-benih kemunafikan di dalam hatinya tidaklah demikian. Berikut ini kutipan dari buku Panduan Amal Sehari Semalam karya Ustadz Abu Ihsan dan Ustadzah Ummu Ihsan. Buku inipun pernah dibedah di Cilegon pada tahun 2010 oleh Ustadz Abu Ihsan hafzahullah. Bagian sub judul dalam [....] adalah dari kami. Semoga bermanfaat

Singgahilah Taman-taman Surga

Yaitu majelis ilmu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengumpamakannya sebagai taman-taman surga di muka bumi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Apabila kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah!” Anas bertanya, “Apakah yang disebut taman-taman surga itu” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Majelis-majelis ilmu.” (Dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah no 2562)

[Keutamaan Majelis Ilmu/Taman Surga]

Karena di majelis inilah kita dapat mengenal Islam, mengetahui halal dan haram, mengenal sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengenal kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan syariat. Majelis yang menyucikan hati dan jiwa serta membuatnya tenteram. Majelis yang senantiasa tercurah berkah dan maghfirah atasnya, dihadiri oleh para malaikat dan mendo’akan siapa saja yang hadir di situ. Majelis yang di dalamnya kita melupakan sejenak kesibukan dan kepenatan dunia, menghadap kepada Allah untuk menuntut ilmu agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا اْجتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ تَعَا لَى يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ  وَحَفَّتهُمُ الْمَلَائِكَة وَذَكَرَهُمُ   اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun atas mereka sakinah (ketenangan), akan terlimpah atas mereka rahmat, akan dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan memuji mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisiNya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no 1455)

[Orang itu Berpaling dari Majelis Ilmu maka Allah pun Berpaling darinya...]

Coba simak kisah tiga orang ini, Abu Waqid Al Laitsi menceritakan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dalam majelis di masjid dikelilingi para shahabat, tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan satu orang pergi. Kedua orang itu berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah seorang dari mereka melihat celah di sela majelis lalu ia duduk di situ. Dan yang satu lagi duduk di bagian belakang majelis. Sementara yang ketiga pergi meninggalkan majelis. Seusai menyampaikan ceramahnya beliau berkata,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ الله، وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ

“Maukah kalian aku beritahu perihal tiga orang tadi? Adapun yang pertama, ia mendekati Allah maka Allah pun mendekatinya. Yang kedua ia malu-malu maka Allah malu terhadapnya. Adapun yang ketiga, ia berpaling maka Allah pun berpaling darinya. (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya no. 66)

[Diantara Sifat Munafiq adalah Malas 'Ngaji' dan Buruk Akhlaknya]

Sungguh sebuah musibah besar atas seseorang apabila Allah telah berpaling darinya akibat ia berpaling dari majelis ilmu. Tidakkah ia merasa betah duduk berlama-lama di taman-taman surga? Jika ia tidak betah duduk di taman surga, lalu dimanakah lagi ia betah duduk? Memang, tafaqquh fid diin (mendalami agama/ ngaji) terasa berat bagi orang yang dalam hatinya terdapat benih-benih kemunafikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَصْلَتَا نِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَا فِقٍ: حُسْنُ سَمْتٍ وَ فِقْهٌ فِي دِيْنٍ

“Dua sifat yang tidak akan terkumpul pada diri seorang munafik, akhlak yang terpuji dan menuntut ilmu agama” (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya dan dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Shahih al Jaami’ no.3229)