Tegar di Atas Manhaj Salaf

Tegar di Atas Manhaj Salaf. Image courtesy of www.free4uwallpapers.orgTegar diatas manhaj salaf adalah suatu kemestian, di tengah derasnya gelombang fitnah akhir zaman dengan bermunculannya jama’ah-jama’ah islam dewasa ini. Jama’ah-jama’ah islam yang ada mengklaim bahwa merekalah yang paling benar, mengaku bahwa mereka mengikuti al-Qur’an dan Sunnah walaupun pada prakteknya jauh dari pemahaman al-Qur’an dan Sunnah yang benar. Di sinilah letak pentingnya berpegang teguh dengan manhaj salaf. Dalam memahami dien Islam ini, yang bersumber dari dua wahyu utama al-Qur’an dan Sunnah, harus diiringi dengan pemahaman dan manhaj yang benar yaitu manhaj salaf, ahlus sunnah wal jama’ah. Berikut ini sebagian fatwa para ulama kibar tentang wajibnya mengambil manhaj salaf. Wallohu Musta’an.

 

SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Tidak ada aibnya bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, menyandarkan diri kepadanya dan bangga dengan madzhab salaf, bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan para ulama, karena tidaklah madzhab salaf kecuali diatas kebenaran. Apabila dia sesuai dengan salaf secara lahir dan batin, maka dia bagaikan seorang mukmin yang berada diatas kebenaran secara lahir dan batin”. (Majmu’ Fatawa 4/149)

 

LAJNAH DAIMAH

Soal: Apakah yang dimaksud dengan salafiyyah?

Jawab: Salafiyyah adalah nisbah kepada salaf, dan salaf mereka adalah para sahabat Rasulullah dan para imam yang mendapat petunjuk dari tiga generasi terdahulu yang telah direkomendasikan oleh Rasulullah dengan kebaikan dalam sabdanya,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ يَجِئُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ

“Manusia yang paling baik adalah generasiku, kemudian yang setelahnya dan yang setelahnya. Kemudian setelah itu datanglah sekelompok kaum yang persaksian salah seorang diantara mereka mendahulului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (Muttafaq A’laih).

Dan Salafiyyun adalah jama’ dari salafy nisbah kepada salaf. Mereka adalah orang-orang yang berjalan diatas manhaj salaf dengan mengikuti kitab dan sunnah, mendakwahkan dan beramal dengan keduanya, mereka itulah Ahlus sunnah wal jama’ah. (Fatwa Lajnah Daimah 2/242 no. Fatwa 1361)

 

SYAIKH ABDUL AZIZ BIN BAZ

Soal: Bagaimana pendapat anda terhadap orang yang menamai dirinya salafiy atau atsariy, apakah ini termasuk tazkiyah?

Jawab: Apabila memang benar dia itu atsariy atau salafiy maka tidaklah mengapa. Semisal apa yang dikatakan oleh para salaf, “Si fulan salafy, si fulan atsary, itu adalah tazkiyah yang harus, tazkiyah yang wajib”. (Kaset Muhadharah “Haqqul Muslim” pada tanggal 16-01-1413 H di Thaif).

 

SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI

1.Soal: Apa yang dimaksud dengan salafiyyah?

Jawab: Ketika kita mengatakan kami adalah salaf, maka yang dimaksud adalah generasi terbaik yang ada di muka bumi ini setelah para rasul dan para nabi. Mereka adalah para sahabat Rasulullah generasi pertama umat ini, kemudian para tabi’in yang datang setelahnya kemudian para tabiut tabi’in pada generasi ketiganya. Tiga generasi inilah nama salaf dimutlakkan, mereka adalah sebaik-baiknya ummat. Ketika kita menisbahkan kepada salaf maka maksudnya, aku menisbahkan kepada generasi terbaik. Perlu dipahami pula bahwa penisbahan dan penyandaran ini bukanlah penisbahan kepada perorangan atau kepada jama’ah tertentu yang mungkin bisa salah atau  berada dalam kesesatan, baik sebagian maupun keseluruhan. (al-Manhaj as-Salafiy I’nda Syaikh al-Albani hal.14)

 

2.Soal: Mengapa kita perlu memakai nama salafiyyah? apakah itu termasuk dakwah hizbiyyah, kelompok atau sebuah madzhab? ataukah mungkin dia itu kelompok baru dalam islam?

Jawab: “Sesungguhnya kalimat salaf sudah dikenal secara bahasa arab maupun syar’i. Sungguh telah shahih bahwa Nabi pernah berkata kepada Fatimah ketika sakit yang membuatnya meninggal, beliau berkata: “Bertakwa dan bersabarlah engkau wahai Fatimah, sungguh pendahulu yang paling baik bagimu adalah aku.” Ulama banyak pula yang menggunakan istilah ini, contohnya adalah ketika mereka berdalil untuk memerangi bid’ah mereka mengatakan:

كُلُّ خَيْرٍ فِيْ اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ

          وَ كُلُّ شَرٍّ فِيْ ابْتِدَاعِ مَنْ خَلَفَ

Seluruh kebaikan adalah dengan mengikuti orang-orang salaf (terdahulu)

dan semua keburukan pada bid’ahnya orang-orang khalaf (yang datang kemudian)

Akan tetapi ada orang yang mengaku berilmu mengingkari nisbah Salafiyah dengan menyangka bahwa penisbahan ini tidak ada landasannya sehingga dia mengatakan: “Tidak boleh seorang muslim mengatakan: Saya salafi”. Seakan-akan dia mengatakan: “Tidak boleh seorang muslim mengatakan: “Saya mengikuti salafush shalih dalam jalan mereka dalam aqidah, ibadah, dan suluk!”

Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran seperti ini mengharuskan berlepas diri dari Islam yang shahih yang ditempuh oleh salafush shalih, yang pemuka mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diisyaratkan oleh hadits yang mutawatir yang diriwayatkan dalam Shahihain dan yang lainnya bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian yang datang sesudah mereka.”

Tidak boleh seorang muslim berlepas diri dari intisab kepada salafush shalih…

Orang yang mengingkari penisbahan ini tidakkah engkau melihat bahwasanya dia menisbahkan dirinya kepada suatu madzhab, entah dalam aqidah atau fikih?!

Maka dia bisa jadi seorang Asy’ari, atau Maturidi, atau termasuk Ahlil Hadits, atau Hanafi, atau Syafi’i, atau Maliki, atau Hanbali; dari nisbah-nisbah yang terhimpun dalam nama Ahlus Sunnah. Padahal setiap yang menisbahkan diri kepada madzhab Asy’ari atau madzhab imam empat berarti dia menisbahkan diri kepada person-person yang tidak ma’shum

Adapun orang yang menisbahkan kepada salafush shalih maka dia telah menisbahkan diri kepada kema’shuman –secara umum–. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebut sebagian tanda dari Firqatun Najiyah bahwasanya mereka berpegang teguh dengan jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya maka dia telah berada di atas petunjuk dari Rabbnya dengan yakin …”v(al-Manhaj as-Salafiy I’nda Syaikh al-Albani hal.17, lihat pula Majalah al-Ashalah edisi 9 hal. 87)

 

SYAIKH SHALIH BIN FAUZAN AL-FAUZAN

1.Soal: Apakah orang yang menamai dirinya salafiy dianggap hizbiy?

Jawab: Menamai dirinya salafiy apabila memang benar maka tidak mengapa. Adapun apabila hanya sekedar pengakuan belaka, maka hal itu tidak dibenarkan menamai dirinya salafiy sedangkan dia tidak diatas manhaj salaf. Maka orang-orang Asya’irah juga mengatakan, “Kami ahlus sunnah wal jama’ah”, perkataan mereka tidak benar, karena mereka tidak berada diatas manhaj ahlus sunnah, demikian pula Mu’tazilah mereka menyebut diri mereka orang-orang yang muwwahid.

Orang yang mengklaim dirinya ahlus sunnah wal jama’ah harus mengikuti jalannya ahlus sunnah wal jama’ah dan meninggalkan jalannya orang-orang yang menyelisihi. (al-Ajwibah al-Mufidah hal.16)

 

2.Soal: Apakah boleh bagi ulama untuk menjelaskan kepada para pemuda dan orang awwam tentang bahayanya hizbi dan perpecahan?

Jawab: Ya, bahkan wajib menjelaskan bahayanya perpecahan agar manusia berada diatas petunjuk. Karena orang awan akan tertipu, betapa banyak orang awam zaman sekarang tertipu dengan jama’ah-jama’ah yang ada, menyangka mereka diatas kebenaran?!, maka harus kita jelaskan kepada manusia baik pelajar maupun orang awwam. Karena apabila ulama diam manusia akan mengatakan, “Lihatlah para ulama saja tidak berkomentar”, lewat celah inilah kesesatan bisa masuk. Ketika membicarakan dan menjelaskan masalah ini, tujuannya adalah agar manusia berada diatas ilmu terhadap perkara mereka.” (Muhadharat Fil Aqidah wad Dakwah hal.318)

 

SYAIKH BAKR ABU ZAID

Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid, “Apabila dikatakan, salaf atau safiyyun maka ini adalah nisbah kepada salaf, mereka adalah seluruh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Tidak terbawa arus dengan hawa nafsu, mereka tegar diatas manhaj nubuwwah, maka mereka disebut salaf salafiyyun yaitu salafus shalih. Lafazh seperti ini jika dimutlakkan maka maksudnya adalah setiap orang yang mencontoh para sahabat walaupun orang itu hidup pada masa kita. Inilah yang dikatakan oleh para ahli ilmu. Penisbahan seperti ini tidak ada simbol tertentu yang keluar dari al-Qur’an dan Sunnah, tidak akan terpisah walaupun sejenak dari generasi terdahulu. Adapun orang-orang yang menyelisihi mereka (para sahabat), dengan nama atau simbol bukanlah termasuk salaf sekalipun hidup ditengah-tengah mereka dan sezaman dengan mereka.” (Hukmul Intima’ hal.36)



Disusun dan diterjemahkan oleh Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman